FAKTANASIONAL.COM, Yogyakarta — Kekayaan laut Indonesia, semangat perempuan, hingga batik khas Nias dan tradisi batik Jawa tampil dalam beragam koleksi di panggung Jogja Fashion Week 2026. Para desainer tidak hanya menawarkan busana dengan sentuhan modern, tetapi juga menjadikan wastra Nusantara sebagai identitas yang terus dikembangkan agar relevan dengan tren fashion global.
Jogja Fashion Week 2026 berlangsung pada 13-16 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta. Ajang ini menjadi ruang bagi para desainer untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan yang lebih modern dan sesuai dengan kebutuhan pasar masa kini.
Yuni Pohan bersama Yuslian Harefa atau Wery membawa batik Nias ke panggung Jogja Fashion Week 2026 melalui konsep Bollywood Modern. Sebanyak 13 look ditampilkan dengan menggabungkan inspirasi Bollywood dan motif batik Nias.
Yuni sengaja menggunakan warna-warna lembut seperti merah muda untuk membuat batik Nias lebih mudah diterima pasar yang lebih luas.
“Kami mengangkat Nias karena selama ini orang lebih mengenal Sumatera Utara melalui ulos. Padahal, kita juga harus menunjukkan bahwa meskipun berasal dari daerah, kita bisa percaya diri dan bersaing dengan teman-teman dari seluruh Indonesia,” tambah Yuni.
Sementara, Wery menjelaskan, batik Nias yang digunakan merupakan batik tulis dengan motif yang berasal dari budaya Nias dan dipadukan dengan unsur alam di sekitarnya.
Bagi Yuni, pengembangan wastra tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk tradisional. Wastra harus dibuat lebih fungsional melalui busana ready to wear, aksesori, hingga produk fesyen sehari-hari agar semakin dekat dengan generasi muda.
“Sebagai desainer dan pengembang, saya berusaha membuat wastra menjadi lebih fungsional dan bisa digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua,” ujarnya.
Ia berharap Jogja Fashion Week ke depan tidak hanya menjadi panggung bagi desainer dari Yogyakarta dan Jakarta, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi desainer dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Kalimantan, hingga Makassar.
Dengan demikian, Jogja Fashion Week 2026 tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan busana, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai identitas budaya Indonesia.
Dari lurik Yogyakarta, tenun Toba, batik Jawa, hingga batik Nias, para desainer menunjukkan bahwa wastra Nusantara dapat terus hidup melalui inovasi dan mampu menembus pasar fashion global.(*)













