Oleh: Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M.

FAKTANASIONAL.COM, SERANG, BANTEN — Regenerasi adalah salah satu persoalan paling menentukan dalam keberlanjutan kebudayaan. Sebuah tradisi tidak akan hidup hanya karena diwariskan sebagai peninggalan masa lalu; ia harus dipelajari, dipraktikkan, dikembangkan, diberi ruang ekspresi, dan dipertemukan dengan generasi baru.

Semangat itulah yang terasa kuat dalam Festival Dalang Anak (FDA) 2026 Banten. Festival ini tidak berhenti sebagai arena kompetisi seni pedalangan, tetapi tumbuh menjadi ruang pendidikan budaya, laboratorium regenerasi, silaturahmi antargenerasi, transfer pengetahuan, sekaligus membuka perspektif baru bahwa wayang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata budaya, penggerak ekonomi kreatif, dan bagian dari pembangunan daerah berbasis identitas budaya.

Puncak Festival Dalang Anak 2026 yang berlangsung Minggu, 4 Oktober 2026, di Plaza Aspirasi KP3B, Kota Serang, mempertemukan pemerintah, organisasi profesi, maestro dan seniman pedalangan, komunitas, orang tua, generasi muda, serta masyarakat dalam satu ekosistem kebudayaan.

Di sinilah pesan penting festival menemukan relevansinya: wayang tidak cukup hanya diselamatkan dari kepunahan. Wayang harus diwariskan, dikembangkan, dimanfaatkan, diperbarui ruang hidupnya, dipertemukan dengan generasi baru, dan diperluas manfaat sosial, pendidikan, budaya, pariwisata, serta ekonominya.

DELAPAN DALANG ANAK, DELAPAN HARAPAN REGENERASI

Festival Dalang Anak 2026 diikuti delapan dalang anak yang terbagi dalam dua kategori usia. Kategori A diperuntukkan bagi dalang berusia 5–9 tahun, sedangkan Kategori B untuk usia 10–15 tahun. Setiap peserta memperoleh kesempatan menyajikan pertunjukan selama sekitar 45 menit dengan iringan gamelan secara langsung.

Pada Kategori A, Devan Fais Ramadhan membawakan lakon Seba Kingkin Kawedar; Gema Nataraya Dilaga membawakan Bambang Ekalaya; Altan Muttaqi Sasmita membawakan Hanoman Duta; dan Rais Hafiz Singandaru juga mengangkat lakon Hanoman Duta.

Sementara pada Kategori B, M. Tajul Arsy membawakan Babad Alas Amer; Idwan Diana menyajikan Karna Tanding; Tigin Langlang Pamor membawakan Seba Kingkin Kawedar; dan Rizqi Wahyu Rohman menyajikan Jaya Jaya Perbangsa.

Hadir tiga juri dalang profesional yaitu Ki Dalang Wawan Ajen dari Wayang Ajen Kota Bekasi, Ki Dalang Awan Dede Amung Sutarya dan Ki Dalang Dandan Dede Amung Sutarya dari Kota Bandung.

Yang sesungguhnya dipertandingkan bukan semata keterampilan memainkan wayang. Di balik setiap anak yang duduk di belakang kelir terdapat proses panjang: belajar bahasa dan sastra, menguasai cerita, memahami karakter, melatih vokal, sabetan, suluk, dialog, humor, irama, komunikasi, hingga keberanian berdiri sebagai penyampai nilai di hadapan masyarakat.

Delapan dalang anak itu karena itu bukan sekadar peserta festiva, meraka tampil gemilang penuh pesona dan kecerian inilah wujud dalam seni yang berkesan. Mereka adalah delapan harapan bagi keberlanjutan mata rantai pewarisan seni pedalangan.

PEMPROV BANTEN: KEBUDAYAAN HARUS BERGERAK DAN BERDAMPAK

Dr. Jamaludin, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Dalang Anak 2026.

Menurutnya, kegiatan tersebut merepresentasikan keberpihakan pemerintah daerah terhadap upaya pemajuan kebudayaan, terutama dengan membuka ruang bagi tumbuhnya generasi baru pelaku seni dan budaya.

«“Festival Dalang Anak merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keberlanjutan kebudayaan melalui regenerasi. Pemerintah Provinsi Banten mendukung program-program kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, memberikan manfaat nyata, serta sejalan dengan semangat Banten Bergerak dan Berdampak.”»

Pemajuan kebudayaan, menurutnya, tidak dapat diselesaikan melalui kegiatan seremonial atau program sesaat. Dibutuhkan kesinambungan pembinaan, ruang ekspresi, peningkatan kapasitas, kolaborasi antarpemangku kepentingan, serta keberlanjutan program.

Pembangunan kebudayaan juga harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter generasi muda yang berlandaskan keimanan, ketakwaan, etika, kecintaan terhadap tanah air, dan kebanggaan terhadap jati diri kebudayaannya.

Karena itu, Festival Dalang Anak memiliki posisi strategis apabila terus dikembangkan menjadi program pembinaan berkelanjutan: bukan hanya mencari siapa yang terbaik dalam festival, tetapi menemukan, mendidik, mendampingi, dan melahirkan generasi dalang berikutnya.

DARI FESTIVAL MENUJU ATRAKSI WISATA BUDAYA

Perspektif menarik disampaikan Eli Susiyanti, S.H., M.H., Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, yang melihat Festival Dalang Anak tidak hanya dari perspektif pelestarian budaya, tetapi juga sebagai potensi pengembangan pariwisata.

«“Festival Dalang Anak memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya. Kegiatan budaya seperti ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menciptakan pergerakan masyarakat, memperkenalkan identitas daerah, serta membuka peluang bagi ekonomi kreatif dan UMKM.”»

Ada momentum menarik ketika Eli Susiyanti naik ke jagat pertunjukan dan mencoba memainkan tokoh Dewi Sinta, sementara Kepala Bidang Kebudayaan Provinsi Banten, Rohaendi, S.Sn., M.Par., mendampinginya dengan memainkan tokoh Batara Rama. Adegan spontan tersebut menghadirkan kedekatan antara pejabat publik, seniman, panggung, dan masyarakat—sebuah simbol bahwa kebudayaan akan semakin hidup ketika tidak berjarak dengan publik.

Eli juga melihat Plaza Aspirasi KP3B memiliki potensi lebih besar sebagai ruang publik yang dapat diaktifkan secara konsisten melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan masyarakat.

Ruang publik tersebut dapat dikembangkan melalui Calendar of Events yang mempertemukan festival, pertunjukan seni dan budaya, lomba, pameran ekonomi kreatif dan UMKM, pendidikan, olahraga, kesehatan, komunitas, kegiatan minat khusus, hobi, serta berbagai aktivitas kreatif masyarakat.

Gagasan ini penting karena destinasi tidak selalu harus lahir dari pembangunan objek wisata baru. Ruang publik yang hidup, memiliki aktivitas berkualitas, kalender acara yang konsisten, identitas yang kuat, aksesibilitas yang baik, serta memberikan pengalaman kepada pengunjung dapat membentuk daya tarik tersendiri.

Plaza Aspirasi KP3B dengan demikian berpeluang bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya acara, tetapi berkembang menjadi ruang budaya dan ruang pengalaman publik yang menghubungkan masyarakat, seni, kreativitas, UMKM, dan pariwisata.

Prinsipnya jelas: ruang publik harus hidup, masyarakat harus terlibat, kebudayaan harus tampil, kreativitas harus tumbuh, UMKM harus bergerak, dan manfaat sosial-ekonominya harus kembali kepada masyarakat.

KAWAH CANDRADIMUKA DALANG GENERASI BARU

Rohaendi, S.Sn., M.Par., Kepala Bidang Kebudayaan Provinsi Banten, menegaskan bahwa Festival Dalang Anak 2026 dirancang bukan semata sebagai festival dan kompetisi.

«“Festival Dalang Anak merupakan kawah Candradimuka bagi lahirnya dalang-dalang generasi baru. Di sinilah anak-anak memperoleh ruang untuk belajar, tampil, bertemu, berproses, sekaligus mendapatkan pengalaman dari dalang senior dan maestro.”»

Festival menjadi ruang perjumpaan Generasi Alpha dan Gen Z dengan pengetahuan serta pengalaman generasi sebelumnya. Di sinilah proses regenerasi memperoleh makna sesungguhnya: bukan menggantikan generasi lama dengan generasi baru, tetapi mentransmisikan pengetahuan, nilai, keterampilan, etika, dan pengalaman dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, penyelenggara menghadirkan sejumlah dalang berpengalaman, antara lain Ki Dalang Wawan Ajen, pendiri dan pengasuh Wayang Ajen Diversity; Ki Dalang Awan Dede Amung Sutarya; serta Ki Dalang Dandan Dede Amung Sutarya, keduanya merupakan putra mendiang maestro dalang Dede Amung Sutarya.

Kehadiran mereka tidak hanya dimaknai sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi sebagai proses transfer pengetahuan, pengalaman, etika profesi, kreativitas, teknik pertunjukan, hingga inspirasi kepada generasi muda.

Sebab pedalangan merupakan salah satu praktik seni yang sangat kompleks. Dalam sebuah pertunjukan wayang bertemu seni tutur, lakon, cerita, bahasa dan sastra, seni rupa, seni ukir, seni patung, seni lukis, busana, dekorasi, musik, drama, komedi, kritik sosial, pendidikan karakter, pesan moral, nilai religius, hingga komunikasi sosial.

Menjadi dalang karena itu bukan hanya belajar menggerakkan wayang. Dalang belajar menggerakkan gagasan. Ia belajar membaca manusia, masyarakat, budaya, bahasa, sejarah, nilai, bahkan perubahan zamannya.

PEPADI BANTEN: REGENERASI MEMERLUKAN EKOSISTEM

Tirta Nugraha Pratama, S.Sn., M.Sn., Ketua PEPADI Provinsi Banten, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atas dukungan terhadap penyelenggaraan festival.

«“Regenerasi tidak mungkin berjalan hanya dengan semangat. Dibutuhkan ruang, pembinaan, fasilitas, pendampingan, serta dukungan program dan penganggaran yang berkelanjutan agar gagasan kreatif para dalang muda dapat tumbuh menjadi karya.”»

Pernyataan tersebut menyentuh persoalan mendasar dalam regenerasi kebudayaan. Talenta tidak cukup ditemukan; talenta harus dirawat. Festival seharusnya menjadi pintu masuk menuju pembinaan berikutnya, bukan menjadi titik akhir.

Tirta juga menyampaikan penghargaan kepada dewan juri, panitia, komunitas pedalangan, seluruh peserta, serta terutama para orang tua dan keluarga yang memberikan dukungan kepada anak-anak untuk belajar dan mencintai seni pedalangan.

Apresiasi turut diberikan kepada keluarga besar H. Asep Haelusna, S.Sn., M.M., RM Asstro Group, yang mendukung kehadiran dalang cilik Aden Azka Asstroberi Putra dalam pertunjukan Wayang Ajen Junior dengan lakon Gatotkaca Yuda pada puncak penutupan Festival Dalang Anak 2026.

Penampilan Aden Azka sekaligus memperlihatkan bahwa regenerasi dapat tumbuh ketika seorang anak memiliki ekosistem pendukung: keluarga yang memberi ruang, sanggar yang mendidik, guru yang membimbing, komunitas yang menguatkan, dan panggung yang memberikan pengalaman.

Puncak festival juga diperkaya penampilan Dalang Lala bersama Wayang Kulit Garing dan tim musik Rudat melalui lakon Ciung Wanara dalam interpretasi khas Banten.

PEPADI JAWA BARAT: MEMBANGUN JEMBATAN SILATURAHMI BUDAYA

H. Darsa Wibiksana, S.H., Ketua PEPADI Jawa Barat, yang turut hadir, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Dalang Anak Banten.

«“Kegiatan seperti ini sangat penting karena bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga ruang silaturahmi budaya dan pendidikan seni pedalangan. Regenerasi harus diberikan panggung agar anak-anak mengenal, mencintai, mempelajari, dan akhirnya bangga menjadi bagian dari kebudayaannya sendiri.”»

Festival sekaligus membuka peluang memperkuat jejaring kebudayaan lintas wilayah. Banten dan Jawa Barat memiliki kedekatan sejarah dan ekosistem budaya yang dapat terus dikembangkan melalui pertukaran seniman, pembinaan dalang muda, workshop, festival bersama, residensi, hingga kolaborasi pertunjukan.

Turut hadir pula Mas Yanto Kuncir, perwakilan PEPADI Pusat, bersama para tokoh, seniman, komunitas, keluarga peserta, dan masyarakat pencinta seni pedalangan.

JANGAN BERHENTI KETIKA FESTIVAL SELESAI

Inilah tantangan terbesar setelah Festival Dalang Anak 2026 berakhir.

Apa yang terjadi kepada delapan dalang anak itu setelah lampu panggung dipadamkan?

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang memperoleh penghargaan.

Jika regenerasi ingin menghasilkan dampak jangka panjang, diperlukan model pembinaan pascafestival: ruang latihan rutin, mentoring bersama maestro, peningkatan kompetensi, dokumentasi dan digitalisasi karya, pertukaran antarsanggar, panggung pertunjukan reguler, promosi melalui media digital, serta kesempatan tampil dalam agenda kebudayaan dan pariwisata.

Dengan pendekatan tersebut, festival bergerak dari pola event-based menuju ecosystem-based cultural development.

Ekosistem itu mempertemukan:

Pemerintah → Maestro/Seniman → Organisasi Profesi → Sanggar/Komunitas → Sekolah → Keluarga → Generasi Muda → Ekonomi Kreatif/UMKM → Pariwisata → Media → Masyarakat.

Ketika seluruh mata rantai tersebut terhubung, dampaknya menjadi jauh lebih luas. Festival tidak hanya melahirkan dalang baru, tetapi juga meningkatkan apresiasi masyarakat, memperluas ruang kreativitas, menggerakkan ekonomi budaya, menciptakan atraksi wisata, membuka pasar bagi UMKM, memperkuat jejaring komunitas, dan meneguhkan identitas budaya daerah.

DARI EVENT MENUJU EKOSISTEM, DARI PELESTARIAN MENUJU KEBERLANJUTAN

Festival Dalang Anak Banten memiliki peluang strategis untuk ditransformasikan dari event tahunan menjadi gerakan regenerasi kebudayaan, kemudian dikembangkan menjadi salah satu bagian dari Calendar of Events Pariwisata Budaya Banten.

Di sinilah kebudayaan dan pariwisata dapat bertemu secara produktif

Kebudayaan menyediakan identitas, nilai, narasi, kreativitas, dan pengalaman. Pariwisata memperluas ruang apresiasi, jejaring, mobilitas pengunjung, promosi, dan peluang ekonomi. Ekonomi kreatif kemudian menghubungkannya dengan produk, jasa, kuliner, kriya, fesyen, konten digital, dan UMKM.

Namun orientasinya harus tetap jelas: kebudayaan bukan sekadar komoditas tontonan. Masyarakat pemilik kebudayaan harus tetap menjadi subjek utama, sedangkan pariwisata menjadi instrumen untuk memperluas manfaat dan memperkuat keberlanjutannya.

Karena ukuran keberhasilan Festival Dalang Anak pada akhirnya bukan hanya seberapa meriah panggungnya, berapa banyak penontonnya, atau siapa pemenangnya.

Ukuran keberhasilan yang lebih substansial adalah: apakah setelah festival selesai anak-anak tetap belajar; sanggar tetap hidup; maestro terus mewariskan pengetahuan; pemerintah melanjutkan pembinaan; keluarga tetap mendukung; ruang publik terus berkegiatan; UMKM memperoleh manfaat; masyarakat semakin mencintai wayang; dan generasi baru berani membawa warisan budaya itu memasuki masa depan.

Itulah hakikat regenerasi

Wayang diwariskan bukan untuk dipenjarakan di masa lalu. Wayang harus hidup bersama generasi baru, berbicara dengan bahasa zamannya, hadir dalam ruang-ruang baru, memberi manfaat bagi masyarakat, dan terus bergerak menuju masa depan.

Festival Dalang Anak 2026 Banten: Regenerasi Bergerak, Kebudayaan Berdampak.

Keterangan penulis
Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, sekaligus pendiri dan pengasuh Wayang Ajen Diversity Kota Bekasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top