FAKTANASIONAL.COM, BANDUNG — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi dalam menjawab tantangan pembangunan pertanian. Upaya tersebut dilakukan melalui penjajakan tindak lanjut kerja sama antara Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Sekolah Pascasarjana Ilmu dan Teknologi Multidisiplin Institut Teknologi Bandung (SPITM ITB), Jumat (16/10/2026).
Kunjungan dihadiri langsung oleh Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, dan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, serta disambut jajaran Dekanat SPITM ITB, termasuk Dekan SPITM ITB, Prof. Wahyu Srigutomo. Pertemuan membahas potensi kolaborasi dalam penerapan teknologi pertanian presisi, pengembangan kompetensi SDM, penguatan pendidikan vokasi dan program studi, serta pendidikan lanjutan bagi pegawai.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan perguruan tinggi merupakan mitra strategis pemerintah dalam melahirkan inovasi untuk menjawab tantangan sektor pertanian nasional.
“Kita membutuhkan kampus, pemerintah, dan dunia usaha berjalan bersama. Hasil penelitian harus turun ke masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi petani,” katanya.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa kerja sama dengan perguruan tinggi perlu diarahkan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan, hasil riset, dan inovasi teknologi untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian.
“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan ilmu pengetahuan, riset, teknologi, dan varietas unggul, termasuk melalui pengujian, validasi, hingga hilirisasi hasil riset agar dapat diterapkan secara nyata di lapangan. Setiap perguruan tinggi dapat berkontribusi sesuai kompetensi, keunggulan riset, dan fasilitas yang dimiliki,” ujar Idha.
Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk melibatkan satuan pendidikan vokasi pertanian agar hasil riset dan inovasi dapat diintegrasikan dalam pembelajaran dan praktik, sekaligus meningkatkan kompetensi SDM pertanian.
Salah satu bentuk konkret yang dijajaki adalah riset dan penerapan M15 Agricultural Drone yang dikembangkan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB untuk mendukung pertanian presisi. Teknologi tersebut direncanakan diuji coba di kawasan pertanian modern Muara Telang.
Dekan SPITM ITB, Prof. Wahyu Srigutomo, menyampaikan bahwa ITB memiliki ruang kolaborasi yang luas dengan Kementan, khususnya dalam menghubungkan kekuatan riset dan teknologi dengan kebutuhan pembangunan pertanian.
Baca Juga: Workshop Kepemimpinan dan Kewirausahaan Dorong Generasi Muda Wujudkan Pertanian Berkelanjutan
“ITB dan Kementerian Pertanian dapat memperkuat kolaborasi di bidang penelitian sekaligus pemanfaatan teknologi. Salah satunya melalui penerapan M15 Agricultural Drone yang dikembangkan oleh Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB untuk mendukung pertanian presisi. Teknologi ini dapat diuji dan dikembangkan di wilayah binaan Kementerian Pertanian sehingga hasil riset dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan pertanian,” ujar Wahyu.
Selain teknologi pertanian presisi, Kementan dan ITB menjajaki pengembangan kompetensi SDM melalui UPT lingkup BPPSDMP dengan melibatkan tim ahli ITB dalam pendidikan, pelatihan, pengembangan kurikulum, dan peningkatan kompetensi. Kerja sama juga mencakup pendampingan akademik dan supervisi ITB bagi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), termasuk pemetaan kompetensi, penyusunan kurikulum, pemenuhan standar mutu, serta penyelarasan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi pertanian.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menilai kolaborasi tersebut dapat memperkuat keterhubungan antara pendidikan, riset, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja.
“Kerja sama BPPSDMP dengan ITB diarahkan pada penerapan teknologi pertanian, peningkatan kompetensi SDM, pengembangan program studi, dan pendidikan lanjutan. Bagi pendidikan vokasi pertanian, kolaborasi ini menjadi peluang untuk memperkuat keterhubungan antara riset, teknologi, proses pembelajaran, dan kebutuhan dunia kerja,” ujar Muhammad Amin.
Menurutnya, hasil riset dan inovasi perguruan tinggi dapat menjadi sumber pengayaan pembelajaran di satuan pendidikan vokasi, baik melalui praktik lapangan maupun pengembangan Teaching Factory.
“Melalui sinergi tersebut, pendidikan vokasi pertanian diharapkan mampu menyiapkan SDM yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pertanian modern,” lanjutnya.
Pada 2027, kerja sama juga merencanakan pengiriman pegawai atau mahasiswa yang berminat mengikuti Program Magister Teknokultur ITB. Program tersebut mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, ilmu sosial, dan humaniora untuk memperkuat kemampuan multidisipliner dalam menganalisis penerapan teknologi di masyarakat serta mendorong inovasi bagi pengembangan pendidikan vokasi dan transformasi pertanian modern.
Melalui penjajakan tersebut, kerja sama Kementan dan ITB diarahkan pada kolaborasi yang lebih konkret dalam penerapan teknologi pertanian, penguatan riset dan inovasi, peningkatan kompetensi SDM, pengembangan program studi, penguatan pendidikan vokasi, serta peningkatan kualifikasi akademik SDM Kementan.(*)













