Author: (Nia Lusniati)
FAKTANASIONAL.COM, Pekerjaan hari ini belum selesai, tapi sudah teringat deadline besok. Sedang mengerjakan satu tugas, masuk tiga permintaan baru. Mau fokus, tetapi notifikasi terus muncul. Pulang kerja pun pikiran masih menyusun daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. Stres di tempat kerja sering dianggap hal biasa.
“Namanya juga kerja.”
Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah. Sebab, pekerjaan memang memiliki tuntutan. Deadline, target, perubahan, evaluasi, bahkan konflik, adalah bagian dari kehidupan organisasi. Tetapi, sesuatu yang umum terjadi bukan berarti selalu sehat untuk diabaikan.
1. Apa Sebenarnya yang Dimaksud Stres Kerja?
Stres tidak hanya bergantung pada seberapa banyak pekerjaan yang ada. Dalam transactional model of stress and coping, Lazarus dan Folkman menjelaskan jika stres adalah hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Seseorang melakukan penilaian terhadap tuntutan yang dihadapi sekaligus sumber daya yang dimiliki untuk menghadapinya.
Karena itu, situasi yang sama belum tentu memberikan pengalaman stres yang sama kepada dua orang. Sebuah presentasi di depan direksi, mungkin dilihat oleh seseorang sebagai tantangan yang menarik.
Namun, orang lain mungkin melihatnya sebagai situasi yang sangat mengancam.
Perbedaan pengalaman tersebut bukan semata-mata menunjukkan siapa yang “lebih kuat”, tetapi berkaitan dengan cara individu menilai situasi dan sumber daya yang tersedia untuk menghadapinya. Model transaksional tetap banyak digunakan untuk memahami proses stres dan coping.
2. Stres Kerja Tidak Selalu Berasal dari Individu
Ketika seseorang stres, kita sering langsung bertanya:
“Kamu sudah coba meditasi?”
“Sudah olahraga?”
“Sudah belajar time management?”
Semua itu dapat menjadi strategi yang berguna. Namun, kita juga perlu bertanya:

“Apa yang sedang terjadi di pekerjaannya?”
WHO mencatat sejumlah risiko psikososial dapat berkaitan dengan stres dan kesehatan mental, seperti tekanan waktu, kontrol yang rendah terhadap pekerjaan, jam kerja panjang, serta kurangnya dukungan.
Jadi, tidak semua stres dapat diselesaikan dengan meminta seseorang menjadi lebih tenang.
3. Coping: Apa yang Kita Lakukan Ketika Stres Datang?
Secara umum, coping dapat melibatkan usaha untuk mengubah sumber masalah maupun usaha mengelola respons emosional terhadap masalah. Contohnya jika seseorang mendapat tambahan pekerjaan dengan deadline yang sangat pendek.
Orang tersebut dapat melakukan problem-focused coping dengan menyusun prioritas, meminta kejelasan target, bernegosiasi mengenai deadline, atau meminta tambahan sumber daya. Pada saat bersamaan, ia mungkin membutuhkan strategi untuk mengelola emosi: mengambil jeda, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.
Keduanya tidak selalu harus dipertentangkan.
4. Apakah Ada Satu Coping yang Paling Benar?
Tidak selalu. Sebab, strategi coping perlu disesuaikan dengan situasi.
Jika masalah masih dapat dikendalikan, tindakan langsung untuk mengubah situasi mungkin relevan. Tetapi jika seseorang sedang menghadapi sesuatu yang tidak dapat segera diubah, pengelolaan emosi, penerimaan, dukungan sosial, atau penyesuaian perspektif dapat menjadi penting.
Penelitian tentang konflik dengan supervisor, misalnya, menunjukkan bahwa efektivitas strategi coping dapat bergantung pada beratnya stressor dan seberapa besar kontrol seseorang terhadap situasi tersebut.
Itulah sebabnya kalimat “kalau stres ya selesaikan masalahnya” terlalu sederhana. Tidak semua masalah langsung dapat diselesaikan. Dan tidak semua emosi perlu segera dihilangkan.

5. Kapan Stres Perlu Lebih Diperhatikan?
Mengalami stres sesekali tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental.
Namun perubahan yang berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan, layak mendapatkan perhatian.
Misalnya, ketika seseorang merasa sangat sulit memulihkan energi, sulit menjalankan aktivitas sehari-hari, atau distress terasa semakin berat.
Dalam kondisi seperti itu, mencari dukungan bukan tanda kegagalan coping.
Bantuan dapat berasal dari orang yang dipercaya, atasan yang suportif, layanan dukungan yang tersedia di organisasi, maupun profesional kesehatan mental sesuai kebutuhan.
6. Kesehatan Mental di Kantor Bukan Berarti Menghilangkan Semua Stres
Tempat kerja tanpa tuntutan mungkin tidak realistis.
Bahkan, tantangan dalam dosis yang tepat dapat menjadi kesempatan belajar, bertumbuh, dan mengembangkan kemampuan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika tuntutan terus meningkat sementara sumber daya untuk menghadapinya tidak ikut bertambah. Di sinilah perspektif psikologi positif terkait kesehatan mental menjadi relevan.
Bukan dengan mengatakan:
“Jangan stres. Positive thinking saja.”
Tetapi dengan membantu manusia membangun sumber daya, dukungan sosial, kemampuan coping, rasa kendali, resiliensi, dan kesempatan recovery serta memastikan lingkungan kerja tidak terus menghasilkan tuntutan yang tidak realistis.
Karena, mungkin pertanyaan yang lebih tepat ketika melihat seseorang mulai kewalahan bukan:
“Kenapa kamu gampang stres?”
Melainkan:
“Apa yang sedang kamu hadapi, dan sumber daya apa yang kamu butuhkan untuk menghadapinya?”
Referensi
Harvey, S. B., Modini, M., Joyce, S., Milligan-Saville, J. S., Tan, L., Mykletun, A., Bryant, R. A., Christensen, H., & Mitchell, P. B. (2017). Can work make you mentally ill? A systematic meta-review of work-related risk factors for common mental health problems. Occupational and Environmental Medicine, 74(4), 301–310.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer.
World Health Organization. (2022). WHO guidelines on mental health at work.













