Oleh: Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M.

FAKTANASIONAL.COM – Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, dan masyarakat yang menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu pilar strategis pembangunan nasional. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai sekitar 108.000 kilometer, Indonesia memiliki peluang besar menjadi destinasi wisata bahari dan budaya kelas dunia. Namun, keberhasilan pembangunan pariwisata saat ini tidak lagi ditentukan oleh banyaknya objek wisata atau jumlah homestay yang tersedia, melainkan oleh kualitas tata kelola destinasi (destination governance) yang mampu menghadirkan pelayanan profesional, memberdayakan masyarakat, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Pelajaran penting tersebut diperoleh Tim Dosen Politeknik Pariwisata NHI Bandung dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan pada 16–19 Juli 2026 di Pulau Untung Jawa, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Tim yang dipimpin Direktur Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Dr. Anwari Masatip, M.M.Par., CEE, bersama Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, M.M., Dr. Haryadi Darmawan, M.M., CMP, Dr. Sukmadi, S.E., M.M., dan penulis berdialog langsung dengan pemerintah kelurahan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pemilik homestay, pelaku UMKM, pemandu wisata, komunitas seni, serta masyarakat. Satu kesimpulan mengemuka: tantangan utama pengembangan destinasi bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan belum terintegrasinya sistem tata kelola pariwisata.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pembangunan pariwisata global. UN Tourism menegaskan bahwa masa depan pariwisata harus dibangun di atas prinsip keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, inovasi, dan kolaborasi. UNESCO juga menempatkan pelestarian budaya sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan, sementara Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 mengakui pariwisata sebagai instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, penciptaan lapangan kerja, serta pelestarian budaya dan lingkungan. Di tingkat nasional, arah tersebut selaras dengan RPJMN 2025–2029 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang menegaskan bahwa pembangunan pariwisata harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas kesempatan kerja, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat jati diri bangsa.

Pulau Untung Jawa merupakan salah satu destinasi yang memiliki prospek besar. Kedekatannya dengan Jakarta, kekayaan wisata bahari, pantai, hutan mangrove, kuliner hasil laut, budaya masyarakat pesisir, dan kehidupan nelayan menjadi modal utama untuk berkembang sebagai destinasi unggulan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai tambah yang optimal karena pengelolaan homestay masih dilakukan secara individual. Reservasi berjalan sendiri-sendiri, promosi belum terintegrasi, standar pelayanan berbeda-beda, dan distribusi tamu belum merata. Akibatnya, sebagian homestay memiliki tingkat hunian tinggi, sementara yang lain masih kekurangan tamu. Kondisi ini memunculkan ketimpangan pendapatan, persaingan usaha yang kurang sehat, serta menurunkan kualitas pengalaman wisatawan.

Persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Pulau Untung Jawa, tetapi juga menjadi tantangan yang dihadapi banyak desa wisata di Indonesia. Oleh karena itu, solusi yang diperlukan bukan sekadar menambah jumlah homestay, melainkan membangun sistem tata kelola yang profesional, transparan, terintegrasi, dan berkelanjutan melalui Manajemen Satu Pintu Homestay Berbasis Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Melalui model ini, Pokdarwis tidak lagi sekadar berperan sebagai organisasi masyarakat, tetapi berkembang menjadi pusat manajemen destinasi (destination management) yang mengintegrasikan reservasi homestay, promosi digital, distribusi tamu, pengendalian mutu pelayanan, penyusunan paket wisata, pengembangan UMKM, pengelolaan atraksi budaya, hingga basis data wisatawan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep Destination Management Organization (DMO) yang direkomendasikan UN Tourism, yaitu tata kelola destinasi yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan dalam satu rantai nilai (tourism value chain) sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.

Lebih jauh, homestay tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai tempat menginap. Homestay harus menjadi gerbang pengalaman budaya (gateway to local experience) yang mempertemukan wisatawan dengan kehidupan masyarakat lokal. Wisatawan masa kini mencari pengalaman autentik melalui kuliner khas, tradisi, seni budaya, wisata bahari, interaksi dengan nelayan, hingga produk ekonomi kreatif. Ketika seluruh komponen tersebut terhubung dalam satu paket wisata, maka setiap pengeluaran wisatawan akan berputar di dalam komunitas. Inilah konsep local economic circulation yang mampu menciptakan multiplier effect, memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay), meningkatkan belanja wisata (tourist spending), serta memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Menurut Dr. Sukmadi, penguatan tata kelola homestay harus diikuti dengan pengembangan model bisnis dan strategi pemasaran yang mampu menghubungkan seluruh pelaku ekonomi lokal. Pendapatan pariwisata tidak boleh berhenti pada pemilik homestay, tetapi harus mengalir kepada nelayan, pelaku UMKM, penyedia transportasi, pemandu wisata, kelompok kuliner, pengrajin, hingga komunitas seni. Dengan demikian, pariwisata benar-benar menjadi instrumen pemerataan ekonomi, bukan hanya pertumbuhan ekonomi.

Transformasi tersebut membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendampingan kelembagaan Pokdarwis, penyusunan standar operasional homestay, digitalisasi pemasaran, peningkatan kompetensi masyarakat, hingga pengembangan inovasi destinasi berbasis riset terapan merupakan bentuk nyata kontribusi akademisi dalam mempercepat transformasi ekonomi lokal.

Sejalan dengan arah kebijakan Direktur Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Dr. Anwari Masatip, pendidikan tinggi vokasi harus mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui konsep Kampus Berdampak. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan riil melalui inovasi, kolaborasi, dan pendampingan yang berkelanjutan. Sementara itu, Wakil Direktur Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Dr. Haryadi Darmawan, menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan perguruan tinggi merupakan fondasi penting bagi terciptanya destinasi yang adaptif, tangguh, dan berdaya saing. Senada dengan itu, Kepala Program Studi Magister Terapan Pariwisata, Dr. Wisnu Bawa Tarunajaya, menekankan bahwa pengelolaan homestay harus dipahami sebagai bagian dari sistem tata kelola destinasi yang mengintegrasikan manajemen, pelayanan, pemasaran, digitalisasi, keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat.

Masyarakat sebagai Pelaku Utama

Keberhasilan destinasi wisata tidak ditentukan oleh pemerintah semata. Justru masyarakat merupakan aktor utama yang menentukan kualitas pengalaman wisatawan. Karena itu, setiap kelompok masyarakat perlu memiliki peran yang jelas.

Kelompok pemuda dapat menjadi motor promosi digital melalui media sosial, produksi konten kreatif, fotografi, videografi, dan pemasaran daring. Kelompok perempuan dapat mengembangkan kuliner khas, katering, jasa laundry, hingga penyediaan suvenir berbasis kerajinan lokal. Nelayan dapat mengembangkan wisata memancing, wisata edukasi bahari, serta wisata konservasi. Sementara itu, para pelaku UMKM didorong menghasilkan produk unggulan yang memiliki identitas Pulau Untung Jawa sehingga mampu menjadi buah tangan yang bernilai ekonomi.

Pembagian peran seperti ini akan memperkuat rasa memiliki (sense of ownership) masyarakat terhadap pembangunan pariwisata. Ketika manfaat ekonomi dirasakan secara merata, maka masyarakat akan terdorong menjaga kebersihan lingkungan, melestarikan budaya, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan.

Budaya sebagai Daya Tarik yang Membedakan

Salah satu tantangan destinasi wisata bahari adalah kecenderungan menawarkan produk yang seragam. Pantai yang indah saja tidak lagi cukup menjadi pembeda. Oleh sebab itu, Pulau Untung Jawa memerlukan keunikan (unique selling proposition) yang berbasis budaya lokal.

Dalam perspektif penulis sebagai konseptor dan praktisi atraksi wisata budaya, budaya harus ditempatkan sebagai ruh pariwisata. Atraksi budaya bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi media edukasi, pelestarian identitas, sekaligus penggerak ekonomi kreatif. Pulau Untung Jawa memiliki peluang besar untuk mengembangkan festival budaya pesisir, pertunjukan seni tradisional, pagelaran wayang tematik, musik maritim, pameran kuliner khas, hingga kirab budaya yang mengangkat sejarah masyarakat Kepulauan Seribu.

Event seperti Festival Bahari Pulau Untung Jawa, Pekan Budaya Pesisir, Festival Kuliner Laut Nusantara, atau Malam Apresiasi Seni Pesisir dapat menjadi agenda tahunan yang menarik wisatawan sekaligus membuka ruang bagi UMKM, seniman, dan komunitas lokal untuk berkembang. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa event yang dikelola secara profesional mampu meningkatkan jumlah kunjungan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta memperkuat citra destinasi.

Budaya yang dikemas secara kreatif juga akan menciptakan pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan maupun teknologi digital. Justru teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas promosi, sementara substansi pengalaman tetap bertumpu pada kekayaan budaya dan keramahan masyarakat.

Kemanfaatan kegiatan

Respon masyarakat terhadap kegiatan ini sangat positif. Ketua Pokdarwis Pulau Untung Jawa, Rusli, menilai bahwa konsep Manajemen Satu Pintu memberikan harapan baru bagi terciptanya sistem pengelolaan homestay yang lebih adil, transparan, dan profesional. Lurah Pulau Untung Jawa, Muslim, S.IP., M.M., mengapresiasi pendampingan Politeknik Pariwisata NHI Bandung sebagai bentuk kolaborasi strategis yang memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mendukung pengembangan Pulau Untung Jawa sebagai destinasi unggulan Kepulauan Seribu.

Apresiasi serupa datang dari para pemilik homestay, antara lain Diana, Nini, Kartini, Oking, dan Rohmani, yang berharap sistem reservasi terpadu dapat menciptakan pemerataan tamu, meningkatkan promosi bersama, dan memperkuat standar pelayanan. Para penggiat wisata seperti Kiplik, Ricky, Muhamad Buang, Mat Dini, dan Sinan melihat konsep ini sebagai peluang memperluas paket wisata bahari, mangrove, edukasi pesisir, dan wisata budaya. Sementara itu, para pemandu wisata Nurfadli, Yusupi, Lukman Zulkipli, Masnah, dan Dini optimistis digitalisasi layanan akan meningkatkan profesionalisme pelayanan wisatawan. Dukungan juga datang dari komunitas seni melalui Dimas, Fitri, dan Azil, yang berharap pengembangan homestay dapat dipadukan dengan pertunjukan seni dan budaya pesisir sebagai identitas khas Pulau Untung Jawa.
Antusiasme seluruh peserta menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata berbasis masyarakat hanya akan berhasil apabila dibangun melalui kolaborasi, kepercayaan, dan visi bersama. Pengabdian kepada masyarakat ini tidak berhenti sebagai kegiatan akademik, tetapi menjadi titik awal lahirnya komitmen kolektif untuk membangun sistem tata kelola destinasi yang lebih profesional, inklusif, dan berkelanjutan.

Belajar dari Pulau Untung Jawa, kita memperoleh pelajaran bahwa kekuatan pariwisata Indonesia tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi pada kemampuan mengelola potensi tersebut secara cerdas, kolaboratif, berkelanjutan dan berpihak kepada masyarakat. Manajemen Satu Pintu Homestay Berbasis Pokdarwis bukan sekadar model pengelolaan homestay, melainkan sebuah strategi pembangunan destinasi yang mampu memperkuat ekonomi lokal, melestarikan budaya, meningkatkan daya saing, serta mempercepat transformasi ekonomi pariwisata menuju Indonesia Emas 2045.

Keterangan penulis:
*Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung
**Pendiri dan Pengasuh Sanggar Seni Wayang Ajen Diversity Kota Bekasi, serta penggagas Wayang Ajen sebagai model inovasi seni pertunjukan berbasis budaya, pendidikan, dan teknologi kreatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top