FAKTANASIONAL.COM, SLEMAN – Mengantisipasi lonjakan kendaran dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman lakukan perbaikan infrastruktur jalan secara masif.
Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman Fauzan Ma’aruf menyebut, sebelum Ramadan sudah dilakukan survei lokasi. Utamanya pada ruas-ruas jalan utama yang merupakan jalur mudik maupun jalur wisata.
Selanjutnya, telah dilakukan prioritas penanganan sesuai dengan tingkat kerusakan jalan. Saat ini sedang dilakukan pemeliharaan rutin atau proses penambalan jalan-jalan yang berlubang.
“Target kami pemeliharaan rutin ini bisa selesai h-7 sebelum Lebaran,” ujar Fauzan Ma’aruf, Rabu (4/3/3026).
Fauzan mengungkapkan, untuk memenuhi target tersebut cukup terkendala karena cuaca yang kerap kali hujan. Kondisi ini menyebabkan pekerjaan jalan tidak bisa dilakukan maksimal.
Persoalan rusaknya jalan di Bumi Sembada sendiri dinilai karena angkutan jalan yang melebihi tonase, seperti untuk jalur tol. Kondisi ini mempercepat kerusakan karena jalan kabupaten tidak didesain untuk lalu lintas berat.
“Metode menambal sulam (patching) digunakan sebagai solusi cepat untuk menangani jalan berlubang,” ungkapnya.
Pada 2026, DPUPKP Sleman melakukan perbaikan dan penambalan cepat (patching) di 400 km jalan kabupaten dengan anggaran Rp26,8 miliar, menargetkan jalan berlubang akibat musim hujan, termasuk kawasan terdampak tol di Tempel dan jalan-jalan alternatif, untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Ketua Tim Kerja Pemeliharaan Jalan dan Jembatan DPUPKP Sleman, Suparman, mengatakan pemeliharaan rutin dilakukan sepanjang tahun dan mencakup perbaikan bahu jalan serta saluran air yang menjadi bagian konstruksi jalan.
“Untuk lokasi mana saja, kami menargetkan jalan kabupaten berlubang akibat musim hujan. Lokasi bisa pindah-pindah, tidak menentu. Cuaca yang menurunkan hujan kan belum tentu menimbulkan lubang,” ucap Suparman.
Selain patching jalan kabupaten, Pemkab Sleman pada 2026 juga menyiapkan 11 paket peningkatan jalan serta tiga proyek pembongkaran dan pembangunan kembali jembatan guna memperkuat infrastruktur transportasi daerah.
Sebelas ruas jalan yang akan ditangani meliputi Krapyak–Wonosari, Ngawen–Kenteng, Sedogan–Sempu, Pugeran–Paingan, Donoasih–Ngemplak, Losari–Gayamharjo, Kenaran–Losari, Pundong–Klaci, Diro–Kwayuhan, Serut–Krikilan, serta Sanggrahan–Manukan.
Adapun tiga jembatan yang akan dibongkar dan dibangun kembali yakni Jembatan Tumut di Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan (7 x 8 meter), Jembatan Nyamplung di Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik (6 x 8 meter), serta Jembatan Plosokerep di Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan (3 x 8 meter), yang menjadi bagian dari strategi peningkatan kualitas infrastruktur jalan kabupaten Sleman secara bertahap sepanjang 2026.
Menghadapi curah hujan dengan intensitas tinggi, DPUPKP Sleman juga menyiapkan tim mobile. Tim ini bertugas melakukan penanganan sekaligus pendataan kerusakan jalan setiap hari.
“Rata-rata umur jalan di Sleman sudah lebih dari 10 tahun. Idealnya aspal itu 5–10 tahun sudah dilakukan peningkatan. Tapi karena anggaran terbatas, kita tetap berusaha mengoptimalkan yang ada, minimal tidak ada lagi jalan berlubang,” jelasnya.
Untuk ruas jalan nasional dan provinsi, pihaknya tetap berkoordinasi dengan instansi terkait, meski fokus utama tetap pada jalan kabupaten.
Terkait aduan masyarakat, Fauzan mempersilakan warga melapor melalui layanan Lapor Sleman atau datang langsung ke kantor DPUPKP.
“Kami imbau masyarakat Sleman monggo sering-sering lapor. Jalan kabupaten ini idealnya untuk kecepatan sekitar 40 km/jam, bukan untuk kecepatan tinggi, supaya bisa meminimalisir kecelakaan,” pungkasnya.













