FAKTANASIONAL.COM, Tangerang – Seorang lulusan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) berhasil mengharumkan nama almamaternya setelah sukses mengembangkan teknologi pertanian inovatif yang kini diterapkan di kampus tempat ia menempuh Pendidikan. (14/02/2026)
Lulusan tersebut, Hakim (25), merupakan alumni Program Studi Teknologi Mekanisasi Pertanian PEPI. Berbekal pengalaman riset dan praktik lapangan selama masa studi, ia mengembangkan sistem irigasi pintar berbasis sensor dan Internet of Things (IoT) yang mampu mengoptimalkan penggunaan air serta meningkatkan produktivitas lahan percobaan kampus.
Teknologi yang diberi nama “SmartAgri-PEPI” ini dirancang untuk memantau kelembapan tanah, suhu udara, dan kebutuhan nutrisi tanaman secara real-time. Data yang terkumpul diolah melalui aplikasi berbasis web sehingga dosen dan mahasiswa dapat memantau kondisi tanaman secara langsung melalui perangkat gawai.
Inovasi tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya transformasi pertanian berbasis teknologi dan digitalisasi. Ia mengarahkan agar seluruh satuan pendidikan vokasi pertanian menjadi pusat inovasi yang mampu melahirkan solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi produksi, menghemat sumber daya air, serta memperkuat ketahanan pangan nasional.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan bahwa satuan pendidikan di bawah Kementerian Pertanian harus menjadi center of excellence dalam pengembangan SDM pertanian yang adaptif terhadap kemajuan teknologi. Ia mendorong agar setiap inovasi mahasiswa dan alumni tidak berhenti pada tahap prototipe, melainkan dikembangkan hingga siap diterapkan di tingkat petani.
Baca Juga: Optimalisasi Rawa, Politeknik Enjiniring Kementan Gelar Kuliah Umum dukung program swasembada Pangan
Kampus vokasi pertanian harus menjadi laboratorium hidup (living laboratory) bagi pengembangan smart farming. Inovasi seperti sistem irigasi pintar ini perlu diintegrasikan dengan kurikulum, teaching factory, serta kegiatan penyuluhan agar manfaatnya dirasakan langsung oleh petani,” ujar Arsanti.
Direktur PEPI, Harmanto, turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai inovasi Hakim menjadi bukti bahwa lulusan pendidikan vokasi mampu menghadirkan solusi konkret bagi sektor pertanian nasional.“Kami bangga karena inovasi ini lahir dari proses pembelajaran di kampus dan kini kembali memberi manfaat bagi civitas akademika,” Ujar Harmanto.
Hakim menjelaskan, pengembangan teknologi ini berangkat dari keprihatinannya terhadap pemborosan air dan kurang optimalnya sistem pengairan di lahan praktik. “Saya ingin menciptakan sistem yang sederhana, terjangkau, tetapi berdampak nyata bagi produktivitas pertanian, khususnya di lingkungan pendidikan vokasi,” ujarnya saat ditemui di area Teaching Farm Kampus PEPI.
Sejak diterapkan enam bulan terakhir, sistem SmartAgri-PEPI dilaporkan mampu menekan penggunaan air hingga 30 persen serta meningkatkan pertumbuhan tanaman hortikultura di lahan praktik mahasiswa. Selain menjadi sarana efisiensi produksi, teknologi ini juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran interaktif untuk memahami integrasi mekanisasi dan digitalisasi pertanian.
Ke depan, Hakim berencana mengembangkan versi lanjutan dari sistem tersebut agar dapat diterapkan pada lahan petani skala kecil dan menengah di berbagai daerah. Ia berharap inovasinya dapat menjadi bagian dari upaya modernisasi pertanian Indonesia sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak inovator muda dari bangku politeknik, sejalan dengan visi pemerintah dalam mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern(*)













